?

Log in

No account? Create an account

In The Mood [Aoi x Uruha] PG

Title          : In The Mood
Pairing      : Aoi X Uruha
Chapter    : Drabble
Author      : 0yuuchin0
Rating       : PG (Maybe)
Genre       : Romance, suggestiveness
Summary  : He was in the mood today
Disclaimer : Aoi's mount fuji is Uruha's and Uruha's kyuuri is Aoi's, the story is mine.
Warning    : None. It's safe (I guess)
Comment  : This idea came out when I and handayuuto were given a perfume sample by a clerk at a mall. Critics and comments are love <3

[He put perfume on his body]

He saw his own reflection in the mirror. He was in the mood today. His hair fell loosely over his shoulders. His natural ducky lips were not painted by any lip gloss or whatsoever as it would be gone as soon as his longing filled. He wore the lingerie that crazy fan girl gave him once when they had had live at Yokohama, the purple one. Never he had some thoughts that he would use it though. Oh hell yeah he remembered that night his bandmates laughing like mad men when he had opened the gift. He put perfume on his body, making sure that he applied more on his both sides of his neck.
Slightly, he heard the front door was being opened then closed. A little “Tadaima~ Baby, where are you?” reached his ears. He slowly walked to their bed, sit on the edge. He counted.
Three.
Two.
And the door was opened.
There he was, his lover was standing at the door, shocked. He stared at those eyes, searching for lust. But sadly, no, he found none, at least for now. He smiled and crossed his leg, deliberately made the hem of his outfit slightly up, showing his ohmydearheaven delicate thigh off.
"Okaeri, baby." he whispered then moaned “Aoi~”
And there it was, the said lust was found in the said eyes.

YES! THAT'S RIGHT!! HE IS KILLING ME WITH THAT POSE ON RNR!!! LITERALLY!!! HE CAN BE THE REASON OF MY DEATH.
HIS SEXY LIPS ON FADELESS NEW LOOK AND NOW THIS!! GOD, THE HELL!!!
WHAT THE FUCK THE GAZETTE!!!!
I NEED AIR!! I NEED AIR!! AIR!!!!!!


Posted via m.livejournal.com.

Tags:

Innocent Love, chapter 3

Title          : Innocent Love
Pairing      : Tora X Saga, ShouxHiroto, more to come
Chapter    : Chapter 3
Author       : 0yuuchin0
Rating       : PG - 17
Genre       : AU, Romance, Incest
Summary  : Love is never wrong. Then, Are we?
Disclaimer : They are making out in my bathroom not mine. The fic purely came out from the perverted brain of mine.
Warning    : Not beta-ed, written by a rookie.
Comment   : Written in Bahasa. I'm still a rookie at this world of writing thing so please be gentle with me. Critics and comments are loved :)

[“Taka-chan tahan ya….” ]
Bisa dibilang musim semi di Jepang merupakan musim yang paling ditunggu-tunggu. Layaknya pelangi yang muncul setelah hujan, bunga sakura pun tidak ragu membanggakan keindahannya menggantikan tenangnya salju. Semilir angin senantiasa menerbangkan beberapa kelopak bunga pink itu seakan iri terhadap indahannya. Bukan hanya bunga sakura yang tengah merayakan harinya, para siswa Alpha gakuen pun tengah merayakan euphoria kelulusan mereka. Kala itu para orang tua murid datang menyaksikan momen berharga penyerahan ijasah dan memberi selamat kepada anak kebanggaannya - atau teman anaknya yang membanggakan,. Tidak terkecuali orang tua siswa lulusan terbaik tahun ini, Amano Shinji.
“Onii-chan, omedetou…”
“Omedetou, Shinji. Otosan bangga padamu.”
“Hai. Arigatou ne Okasan, Otosan.” ucap Shinji sambil membungkukan tubuhnya.
“Nii-chan…. omedetou gozaimasu…” cengiran imut tak pelak menghiasi wajah pria cantik itu.
Karena tidak tahan dengan cengiran yang diberikan adik kesayangannya itu, Shinji pun mengacak-acak rambut Takashi. “Hai.. hai.. arigatou Taka-chan.”
“Aaaahh~.. Nii-chan~… stoopppp~…” rengeknya.
“Nah, Takashi, kamu harus bisa seperti Shinji-nii. Belajar yang rajin.”
“Otosan gimana sih, aku kan udah masuk sepuluh besar di kelas!” kilahnya sambil mencebikan bibir merah ranumnya.
“Sepuluh besar di kelas saja tidak lantas membuatmu bisa langsung diterima di Alpha Senior seperti Shinji-nii, Takashi.”
“Betul tuh. Makanya kalo diajarin dengerin, jangan malah bengong.” Shinji malah ikut membully adiknya.
“Aku gak bengong! Cuma lagi loading aja!”
“Hoii!!!! Tora!!!!” pembicaraan mereka terpotong karena ada seseorang yang memanggil Shinji. Sang empunya nama menoleh dan melihat Shou, Uruha, dan Hiroto berjalan menghampirinya.
“Ciee~… mantan ketua OSIS jadi siswa lulusan terbaik nih yee~..” goda Uruha sebelum berpaling ke kedua orang tua Tora-Saga dan memberikan salam. “Konnichiwa, Oba-san, Oji-san”
“Konnichiwa.”
“Konnichiwa Kouyou-kun. Wah.. Obasan kira tadi pacarnya Kazamasa-kun. Rambutmu semakin panjang ya.”
“Uhukk… uhuukkk..” tiba-tiba saja Hiroto tersedak, diikuti oleh tawa Shinji dan Takashi. “Ahh,, gomen gomen…”
“Haahh?? Aku dengan laki-laki tidak bergender ini?? Bukan Oba-san, bukan!!” ucap Shou sambil mengelus-elus punggung Hiroto karena tersedak tadi. “Pacarku si imut yang satu ini.” bisik Shou tepat di telinga Hiroto sehingga hanya mereka berdua yang dengar, dan langsung disambut dengan muka merah Hiroto.
“Tidak bergender katamu!!”
“Heii.. heii.. gomen ne Kazamasa-kun, Kouyou-kun. Oh iya, Omedeto ne atas kelulusannya.”
“Arigatou Oba-san” ucap Shou dan Uruha bersamaan.
“Anata, kita harus berangkat sekarang.” potong Otosan setelah melihat jam tangannya.
“Hontou? Hai. Ne, Onii-chan, Taka-chan.. Okasan dan Otosan pergi dulu. Jaga rumah baik-baik ya. Oh iya, kalau kalian ingin merayakan kelulusan di luar jangan pulang malam-malam.” pesan Okasan.
Setelah Otosan dan Okasan berpamitan dan melenggang pergi, Uruha langsung dengan semangat 45 mengajak teman-temannya pergi main untuk merayakan kelulusan mereka.
“Ayo kita ke karaoke!”
“Ke rumah gue aja. Otosan dan Okasan pergi ke German selama seminggu, jadi kita bebas ngapain aja.” Usul Shinji.
“Setubuh!!!!” teriak Uruha. “Nginep aja sekalian gimana? Jadi ini kita pulang kerumah masing-masing dulu sekalian minta ijin.”
“Boleh.. boleh.. sekalian bawa apa aja yang bisa buat ngramein acara kita ntar malam. We will rock this night!” Shou ikut bersemangat
“Ahh! Sipp, ntar gue bawa something deh.” ucap Uruha tiba-tiba teringat sesuatu.
“Bawa apaan Uru-senpai?” tanya Takashi.
Uruha meletakkan jari telunjuknya di depan bibir keritingnya sambil mengedipkan mata kanannya sambil berkata “Hi~mi~tsu”.
Tak pelak ulah Uruha langsung membuatnya mendapatkan tempeleng di kepalanya dari Shinji dan Shou.

***

Ting~… tong~…
Bel kediaman Amano berbunyi. Takashi yang sedang menyiapkan makanan kecil di ruang TV langsung berjalan menuju pintu depan untuk membukakan pintu tamunya.
“Taaarraaaa~….” Dua plastik penuh minuman bersoda menyambut Takashi tepat setelah ia membuka pintu depannya.
“Kita cuma bisa beli minuman soda. Penjaga kasirnya rese, masa mau beli bir aja harus ngeliatin KTP!” racau Uruha sambil mempersilahkan dirinya sendiri masuk.
“Baka! Kita masih 16 tahun, mana boleh beli bir!” ucap Shou mengikuti ‘jejak’ Uruha.
“Ojamashimas~…!!” Hiroto sengaja mengencangkan volume suaranya agar senpai dan kekasihnya itu sadar mereka telah menyelonong masuk ke rumah orang lain, meski itu rumah sahabat mereka –Shinji, dan sudah sering kali bertamu, tetapi tetap saja!
“Ahh iya.. ojamashimas.” ucap Shou dan Uruha bersamaan.
“Hahaha… anggap rumah sendiri. Aku udah menyiapkan makanan di ruang tengah.” balas Takashi.
Sesampainya mereka di ruang tengah bersamaan dengan Shinji yang baru saja turun dari lantai atas. Ia terlihat sangat segar dengan rambut yang masih basah dan handuk yang bertengger di kepalanya.
“Yo!”
“Let’s get the party started!!”
Pesta kelulusan Shinji, Shou, dan Uruha dibuka dengan toss minuman bersoda yang telah di beli Uruha. Dengan jailnya Uruha sengaja mengocok bagiannya sebelum penutup kaleng sodanya ia buka. Alhasil setengah dari isi minuman kaleng itu menyembur keluar. Setelah puas memaki Uruha, mereka duduk santai sambil menonton film-film action koleksi Shinji. Sedikit bosan dengan film-film yang telah mereka tonton, Shou mengusulkan mereka melakukan gerakan harlem shake dan merekamnya untuk koleksi pribadi. Ide Shou disambut oleh keempat temannya. Mereka pun mencari ‘korban’ apa saja yang bisa mereka gunakan untuk menutupi wajah mereka. Uruha menggunakan plastik bekas minuman sodanya, Shinji menggunakan boxer bermotif macan miliknya, Takashi menggunakan bra milik Okasannya – dijadikannya kacamata, Shou menggunakan panci dari dapur, dan Hiroto menggunakan keranjang cucian bersih yang ditemukannya di atas mesin cuci. Mereka pun melakukan gerakan-gerakan bebas sesuai irama musik yang diperdengarkan.
Setelah puas dan lelah melakukan gerakan harlem shake, mereka kembali duduk santai sambil menonton film horror koleksi Takashi. Tidak berasa jam telah menunjukan pukul 2 malam ketika film The Ring 3 usai mereka tonton. Takashi dan Hiroto tidak sengaja telah terlelap di sofa. Shinji lalu menggendong Takashi untuk memindahkannya ke kamarnya di lantai atas dan disuruhnya Shou untuk menidurkan Hiroto di kasurnya. Kemudian Shinji dan Shou kembali ke lantai bawah untuk tidur di depan TV bersama dengan Uruha.
“Kalian mau tidur sekarang?” tanya Uruha.
“Entahlah. Belum ngantuk.” balas Shinji diikuti anggukan dari Shou.
“Hehehehe,, gue bawa sesuatu.” ucap Uruha sambil menggeledah isi tasnya. “Eng-ing-eng~…” lanjutnya sambil memperlihatkan AV ke kedua temannya. “mau nontonnn~…??”
“Gila! Dapet dari mana tuh?” Shinji terkejut dengan barang yang dipegang teman berambut madunya itu. Selama ini Shinji merupakan anak baik-baik yang tidak pernah melakukan hal-hal yang menyimpang. Ini baru pertama kalinya ia melihat AV.
“Kita udah SMA men~.. masa tontonannya anime echi mulu. Sesekali nonton yang hentai version gak papa kan.
“Kok gue deg-deg-an ya? Pertama kali nih gue.” Ucap Shou sambil memegang dadanya merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Uso!” teriak Shinji dan Uruha bersamaan.
“Sstt.. ntar Hiroto sama Saga bangun… Uso ja nai. Lagian emang gue belum pernah liat video begituan.”
“Bo’ong! Yakin gue Hiroto udah gak perjaka gara-gara lu! Gaya pacaran lu aja begitu, nyosor mulu!”
“Hiroto masih perjaka woi~..!!!”
“Berisik lu pada! Jadi nonton gak nih!” potong Uruha setelah ia selesai memasukkan disc ke DVD Player dan menekan tombol start.
Setelah itu pun mereka diam menyaksikan adegan yang ada di dalam video. Selama mereka menonton video tersebut, sesekali terlihat kegelisahan di antara mereka. Entah karena adegannya yang terlalu vulgar atau memang sebenarnya mereka masih terlalu dini untuk menyaksikan adegan tersebut. Setelah video tersebut sampai diakhir penayangan, ketiga remaja itu masih dalam keadaan diam. Mereka tidak tahu apa yang tengah terjadi. Yang mereka rasakan hanya detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Gu- gue… mau tidur aja. Oyasumi.” ucap Shou memecah keheningan dan langsung beranjak menuju sofa di sisi kiri lalu tidur dengan punggung membelakangi kedua temannya.
“Gue juga.” Uruha mengikuti jejak Shou dengan tidur di sofa di sisi kanan.
Shinji masih terpaku dengan apa yang sedang terjadi. Ia pun beranjak ke depan TV untuk mengambil disc yang berada di dalam DVD Player dan menekan tombol off pada TV dan DVD Playernya. Kemudian ia tidur di sofa bagian tengah. Ia tidak pernah membayangkan pengalaman pertamanya menonton AV akan menjadi seperti ini.

***

Jam sudah menunjukan pukul 12 siang. Shinji, Shou, dan Uruha mungkin belum akan bangun bila Takashi dan Hiroto tidak membangunkannya. Sementara ketiga remaja itu membersihkan diri, Takashi dan Hiroto menyiapkan brunch untuk mereka berlima seadanya, nasi omelet. Lalu mereka menyantap makanan itu diselingi dengan ocehan kocak Hiroto, kejailan Uruha, sindiran tajam Shou, omelan Shinji, dan tawa Takashi. Tragedi AV yang dialami Shinji, Shou, dan Uruha pun terkesan lenyap karena tidak ada yang berniat merusak suasana. Setelah mereka merasakan penuh di perutnya, mereka beralih kembali ke ruang tengah. Mereka bergantian memainkan Winning Eleven – game favorite Shinji dan Takashi. Tidak perlu diragukan lagi, Takashi selalu menang melawan siapapun di setiap round nya.
Kegembiraan mereka bermain membuat mereka melupakan waktu yang tengah berjalan. Tidak berasa terangnya sinar matahari telah digantikan oleh teduhnya cahaya bulan. Shou, Uruha, dan Hiroto pun berpamitan pulang.
“Arrgggg!!!! Capeknyaaa~…..” teriak Shinji selepas menutup dan mengunci pintu depannya sambil merentangkkan kedua tangannya ke atas.
“Tapi menyenangkan~…… Nanti kelulusanku kita bikin acara kayak gini lagi ya, Nii-chan.”
“Baka! Itu masih 2 tahun lagi.” kata Shinji sambil mengacak-acak rambut Takashi. “Itu juga kalo kamu lulus, Taka-chan” lanjutnya sambil menjulurkan lidah.
“Nii-chan~!!!! Jahat! Jahat! Jahat!” Takashi yang sebal karena ejekan Shinji langsung memukulinya. Karena sedang dipukuli oleh adiknya, Shinji tidak ingat kalau lantai di rumah mereka sedikit lebih tinggi dari lantai di genkan depan. Tak pelak kaki bagian belakang Shinji tersandung dan membuatnya terjerembab bersamaan dengan Takashi. Jadilah tubuh Takashi menimpa tubuhnya. Tidak sengaja Shinji melihat keatas kearah tubuh Takashi. Dengan posisi nya yang seperti sedang tengkurap di atas tubuh Shinji membuat kaos di bagian lehernya tersikap dan menampakkan tubuh putih mulus di dalamnya. Entah mengapa Shinji merasakan ada sesuatu yang asing pada dirinya. Tidak biasanya ia merasa aneh seperti ini bila melihat tubuh adiknya. Ia pun mendorong tubuh Takashi perlahan agar tidak lagi menindihnya.
“Ahh,, gomen.. Nii-chan~…”
“Aku tidur duluan.” ucap Shinji datar lalu beranjak ke lantai atas.
“Hee? Tidur? Ini masih jam 7, Nii-chan.”
“Aku lelah. Oyasumi.”
“O- oyasumi.” ucap Takashi. “Nii-chan, gomeee~…” lanjut Takashi. Ia takut sikap aneh kakaknya barusan karena ia marah dengan sikapnya yang kekanak-kanakan.

***
Malam itu Shinji tidak dapat tidur. Dilihatnya Takashi yang sudah tidur terlelap di kasur seberang. Dipaksanya menutup mata walau pikirannya masih berkelana. Kejadian kemarin malam dan sore tadi benar-benar menyita pikirannya.
“Nii-chan~…” suara panggilan Takashi membuatnya langsung membelalakan mata. “Nii-chan~.. gomen~… Nii-chan masih marah?” lanjutnya sambil bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke bagian Shinji.
“Ma- marah? Marah kenapa?” Shinji gelagapan. Ia tidak menyangka Takashi belum tidur. Parahnya lagi ia sedang berjalan menujunya. Tanpa pertahanan!
“Tadi sore sikap Nii-chan aneh. Itu kan gak sengaja Nii-chan~..” kini Takashi sudah tepat berada di depannya, duduk di kasurnya, dengan wajah polosnya.
“I- i- iie…” Shinji semakin panik didekati adiknya seperti itu.
“Nii-chan kenapa? Sakit?” sikap Shinji yang seperti itu membuat Takashi cemas. Dipegangnya dahi kakaknya. Ia beranggapan jangan-jangan kakaknya bersikap aneh karena sedang sakit.
“Hentikan!”
“Hee?”
“Taka-chan! Hentikan kataku!” bentak Shinji kasar. Shinji langsung menggenggam pergelangan tangan Takashi, menjauhkannya dari dahinya.
“Ehh? Nande, Nii-chan?” Takashi benar-benar bingung dan takut dibuatnya. Ini pertama kalinya Shinji membentak Takashi.
“Hentikan! Kalau tidak… aku akan.. aku.. akan…” Shinji menundukkan wajahnya. Bahunya bergetar. Walau wajahnya tertutup rambut hitam kelam miliknya, Takashi tahu kakaknya itu sedang sedih.
“Nii-chan~??”
Entah apa yang sedang merasuki Shinji, tiba-tiba saja Shinji mendekatkan bibirnya ke bibir merah ranum adiknya. Takashi yang sempat kaget tidak diberi kesempatan untuk mengelak karena tangan kiri Shinji mengunci kedua tangan Takashi sementara tangan yang lainnya berada di tengkuk Takashi, memperdalam ciuman mereka. Tidak hanya tempel bibir. Shinji dengan sengaja meremas pergelangan tangan adiknya, dan membuatnya melenguh kecil. Shinji pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut adiknya dan meresapi setiap inci bagian dalam adiknya.
Ketika kebutuhan akan oksigen lebih besar daripada kebutuhan Shinji akan bibir adiknya, ia melepas pagutan bibirnya. Wajah Takashi yang memerah semakin menggoda iman Shinji untuk mencicipi ‘rasa’ adiknya di bagian yang lain. Takashi pun hilang orientasi. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia hanya merasa bahwa ia butuh sentuhan kakaknya lebih dalam lagi.
Mereka pun kembali berciuman. Genggaman tangan Shinji pada Takashi mulai mengendur. Begitu Takashi merasa tangannya bebas, dilingkarkannya tangannya ke leher Shinji. Ia ingin lebih rapat dengan kakaknya. Tangan Shinji yang bebas mulai melucuti pakaian Takashi satu persatu, dari atas ke bawah. Takashi pun mulai mengikuti kakaknya. Dilucutinya pakaian kakaknya tanpa melepaskan ciuman mereka.
“Taka-chan~….” Shinji lalu menidurkan Takashi. Mata hazel Shinji menatap Takashi yang sedang di bawahnya. Matanya terpejam sambil sesekali menggigit bibir bawahnya yang memerah dampak dari ciuman ganas mereka sebelumnya. Dadanya naik turun tak beraturan seiring dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Peluh membasahi sekujur tubuhnya, membuatnya terlihat makin menggoda.
Tak kuat dengan pemandangan di hadapannya, Shinji mengalihkan perhatian ke leher jenjang milik Takashi. Dijilatinya leher putih mulus itu. Erangan lembut tanda kenikmatan lepas dari bibir kecil Takashi.
“Aaahhh… Nii-chan~…”
Berbekal pengetahuan dari pengalaman pertamanya menonton AV, Shinji membentangkan kedua kaki Takashi dan memposisikan dirinya ditengah-tengah.
“Taka-chan, kau siap?”
“Hee?? Siap untuk apa Nii-ch… Arrgggg!!” belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Shinji sudah mendorong masuk batangnya ke dalam lubang Takashi. Takashi pun menjerit kesakitan. Sebulir air mata jatuh di pipi putihnya.
“Ahh, gomen.. Nii-chan kira Taka-chan akan suka seperti yang di video.” Shinji yang melihat air mata di pipi adiknya langsung merasa bersalah.
“Video?”
“Taka-chan tahan ya….” ucap Shinji sambil mempercepat tempo tusukannya. Jeritan kesakitan Takashi lambat laun berubah menjadi erangan nikmat.
“Nii-chan~… hayaku~…. Ahh~… faster~… Nii-chan~… deeper~…..”
Desahan mereka juga semakin lama semakin cepat. Hanya beberapa tusukan membawa mereka berdua menuju puncak, diiringi dengan jeritan nikmat keduanya.
“Ahhhhhhhhh~~~……”
Entah telah berapa lama mereka tetap seperti itu. Menjadi satu, menikmati kehadiran satu sama lain. Shinji pun menarik keluar miliknya. Ia lalu tidur di samping adiknya yang masih berusaha mengatur nafasnya. Dipeluknya erat Takashi, seakan tidak ingin ia lepas lagi.
“Nii-chan… bangun.” ucap Takashi setelah ia mendapat kembali nafasnya.
“Biarkan aku seperti ini dulu.” pinta Shinji.
“Nii-chan~… bangun~….” rengeknya lagi sambil mengguncang-guncang tubuh shinji. Takashi lalu tidak segan-segan mencubit hidung mancungnya, membuatnya kesulitan bernapas.
“Nii-chan!!! bangun!!!!!” teriakan Takashi benar-benar membuat Shinji terlonjak kaget dan terduduk.
“Ehh???” Ia bingung. Rasanya baru saja ia mencapai puncak bersama Takashi dan memeluknya erat ditemani cahaya bulan yang menerobos masuk melalui celah-celah jendelanya. Tapi kini ia dapat merasakan cahaya matahari menusuk matanya.
“yume ... ka? Shit!!”

t.b.c

Innocent Love, chapter 2

Title          : Innocent Love

Pairing      : Tora X Saga, more to come

Chapter     : Chapter 2

Author       0yuuchin0

Rating       : PG - 13

Genre        : AU, Romance, Incest

Summary  : Love is never wrong. Then, Are we?

Disclaimer: They ar making out in my bathroom ot mine.

Warning    : Not beta-ed, written by a rookie.

Comment : Written in Bahasa. I'm still a rookie at this world of writing thing so please be gentle with me. Critics and comments are loved :)

[Taka-chan percaya sama Nii-chan?]


“Aku bilang berikan padaku!” Seorang bocah laki-laki mendorong keras bocah laki-laki di depannya hingga terjengkang.

“Apa kau tidak dengar apa yang Byou katakan, hah?” ucap bocah lain yang berdiri disamping Byou – bocah yang telah mendorong tersebut.

“Kazuki, ambil mobil-mobilannya!” perintah Byou pada bocah yang dipanggilnya Kazuki tersebut. “Kau tidak pantas main mobil-mobilan itu! Makanya berikan padaku! Kau lebih baik main bersama mereka!” lanjutnya sambil menunjuk sekelompok anak-anak perempuan yang sedang bermain rumah-rumahan di kejauhan.

“Tidak akan kuberikan!”                

“Kemarikan!” Kazuki langsung berusaha merebut mobil-mobilan dari pemiliknya, namun bocah berperawakan kurus itu tetap memeluk mobil-mobilannya seakan benda itu adalah benda yang paling berharga yang dia miliki dan tidak akan dia serahkan sampai kapanpun.

“Tidak akan!”

Melihat Kazuki tampak kesulitan merebut mainan tersebut, Byou berjalan ke belakang ‘korbannya’ lalu memitingnya dari belakang.

“Akkhhhhh…… Uhukkk… Uhhuukkk…” teriak bocah itu kesakitan dan tersedak karena akses pernapasan terhambat karena pitingan di lehernya.

Tak sengaja teriakannya terdengar oleh seorang anak yang sedang lewat di depan taman itu dan membuatnya menengokkan kepala.

“Lepaskan dia!!!!” Terdapat seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua dari mereka bertiga berlari mendekat. Wajahnya yang tampan terlihat sangat menakutkan walaupun dari kejauhan.

“Cih, macan peliharaannya datang!” cibir Byou sambil melepaskan pitingannya. “Ayo Kazuki, kita pergi!” Duo preman cilik itu pun langsung pergi menjauh. Mereka tidak peduli bila harus dicap pengecut karena lari. Mereka hanya tidak ingin berurusan dengan macan yang lepas dari kandangnya. Lagipula mereka masih anak-anak

“Jangan lari kalian!” teriak ‘sang Macan’ sambil berlari berniat mengerjar duo cilik itu.

“Nii-chan, jangan!” Anak laki-laki yang dipanggil ‘Nii-chan’ itu langsung menghentikan niatnya mengejar preman cilik itu begitu sepasang tangan kecil melingkar di pinggangnya dari belakang.

“Nii-chan…. jangan…..” ucapnya lagi.

Shinji, anak laki-laki yang dipanggil ‘Nii-chan’ itu, dapat merasakan basah di baju bagian punggungnya. Ia tahu adiknya yang bernama Takashi sedang menangis.

“Taka-chan….” Shinji langsung memutarkan tubuhnya dan sedikit membungkuk sehingga dia bisa berhadapan dengan adiknya. “Shhh…. Jangan nangis. Lihat, cantik Taka-chan luntur kalo Taka-chan nangis.” Lanjutnya sambil menyeka airmata di pipi adik kesayangannya.

Takashi pun sebenarnya bingung kenapa dia menangis. Dia tidak pernah menangis di depan orang lain, apalagi anak-anak seperti Byou atau Kazuki yang sering membullynya. Dia merasa bila dia menangis hanya akan membuat pembully makin mengejeknya. Namun tangisnya pecah saat ‘macan penyelamat’nya datang.

“Udah…. Kita pulang yuk. Nanti Okasan cemas.” Shinji memutar tubuhnya lagi. Namun kali ini dia jongkok sambil menyodorkan tangannya ke belakang. “Naik.” perintah Shinji lembut.

Takashi langsung mendekatkan tubuhnya ke punggung Shinji. Dilingkarkan tangan kecilnya ke leher Shinji. Begitu Shinji merasa Takashi siap, dia lalu meletakkan tangannya di bawah paha Takashi dan berdiri. Berjalan santai menuju rumah.

“Taka-chan… Taka-chan selalu enteng sekali. Kapan mau gendutnya.” ejek Shinji tertawa.

“Baka no Onii-chan!” beberapa pukulan yang mendarat di bahu Shinji hanya dibalas dengan derai tawa dari si pemilik bahu.

***

Sesampainya di rumah, Shinji dan Takashi disambut dengan raut wajah kaget Okasannya.

“Ya ampun Taka-chan~ Apa yang terjadi?” tanyanya cemas sambil memeriksa seluruh tubuh Takashi. Lututnya sedikit robek hingga mengeluarkan darah, kulit lehernya yang biasanya putih samar-samar terlihat ungu lebam.

“Maaf, Okasan. Nii-chan gak ngejagain Taka-chan dengan benar. Nii-chan hari ini dapet tugas piket kelas jadi . . . ”

“Iie Okasan!!!” belum sempat Shinji menyelesaikan kalimatnya, Takashi sudah memotongnya. “Nii-chan gak salah. Taka-chan yang bandel. Nii-chan udah nyuruh Taka-chan langsung pulang, tapi Taka-chan malah maen di taman nungguin Nii-chan.” jelasnya.

“Sudah, sudah. Taka-chan mandi dulu, Okasan siapkan P3K nya.”

Lalu Shinji pun mengantar Takashi ke kamar mandi di lantai 2 sebelah kamar Takashi. Begitu Takashi masuk kamar mandi, Shinji kembali ke Okasannya yang sedang di ruang keluarga – menyiapkan perlengkapan P3K untuk Takashi.

“Sini Okasan, biar Nii-chan aja yang ngobatin Taka-chan,” ucapnya sambil meminta kotak P3K yang dipegang Okasan.

“Nii-chan, apa Taka-chan begitu karena diganggu teman-temannya di sekolah?” terdengar nada khawatir di pertanyaannya.

“Okasan tenang saja. Kalau ada yang berani mengganggu Taka-chan, Nii-chan gigit!”

“Hahahaha… Nii-chan~ Nii-chan~…” Okasan lalu menunduk mengimbangi tinggi Shinji dan meletakkan tangannya di bahu kecil anaknya itu.

“Begini Nii-chan, walaupun Nii-chan berniat menjaga Taka-chan, tapi Nii-chan gak boleh menggigit orang sembarangan.” ucapnya. “Apalagi kalau lawannya lebih kecil” tambahnya sambil mengedipkan mata kanannya.

“Enggak Okasan~”

“Lohh Okasan benar kan? Nii-chan sudah kelas 4, sementara Taka-chan dan temannya masih kelas 2.”

“Okasan~~….!!!”

“Iya.. iya.. Okasan percayakan Taka-chan sama Nii-chan. Nih, Taka-chan pasti udah selesai mandinya.”

Setelah menerima kotak P3K dari Okasannya, Shinji langsung menuju kamar Takashi. Dari luar Shinji dapat melihat Takashi sudah selesai mengganti pakaiannya karena pintunya tidak sengaja terbuka. Begitu Takashi melihat kakaknya di ambang pintu, dia langsung duduk manis di kasurnya. Shinji pun menghampirinya lalu berjongkok di depan Takashi.

“Taka-chan~” panggil Shinji sambil mengoleskan betadine ke lutut Takashi yang berdarah.

“Nani?”

“Mereka siapa?”

“Emmm….. Ano……. ” Takashi ragu-ragu menjawabnya.

“Taka-chan bisa cerita semuanya ke Nii-chan. Taka-chan percaya sama Nii-chan?”

“Sebenarnya Byou-kun dan Kazuki-kun gak nakal, cuma mereka mau ngambil mobil-mobilan Taka-chan tadi.”

“mobil-mobilan?” Shinji yang sudah selesai mengobati lutut Takashi beranjak duduk di samping Takashi, beralih mengoleskan salep ke lebam di lehernya.

“Iyaaa…. mobil-mobilan yang Nii-chan kasih pas Taka-chan masuk sekolah.”

“Ohhh,, itu… masih Taka-chan simpen?” tanyanya sambil membereskan kotak P3K yang sudah selesai digunakan.

“Tentu aja masih!!! Itu kan dari Nii-chan!!”

Shinji langsung menatap mata adiknya yang sedang membulat sempurna. Dia tidak menyangka Takashi masih menyimpan mobil-mobilan plastik yang dibelinya di emperan toko sebagai hadiah karena adik kesayangannya itu masuk sekolah.

“Iya… iya… Taka-chan~” katanya sambil mencubit hidung mancung adiknya. Takashi hanya bisa manyun mendapat cubitan dari kakaknya.

***

Tok…Tok…Tok…

Terdengar suara ketukan di pintu kamar Shinji. Pemilik kamar juga sebenarnya hampir terlelap karena jam sudah menunjukan pukul 10.00 malam, cukup malam untuk anak berusia 10 tahun. Dengan sedikit malas Shinji bangun dan berjalan menuju arah pintu. Ketika pintu telah terbuka tampak Takashi berdiri di depannya.

“Nii-chan~….”

“Taka-chan…. Hmmm… Ada apa? Hooaammmm” ucap Shinji setengah sadar.

“Nii-chan~…. Taka-chan boleh tidur di sini? Suara hujan bikin Taka-chan gak bisa tidur.”

“Heeeee…. Hujan??” ketika nyawanya telah terkumpul semua, samar-samar Shinji mendengar suara hujan di luar. Takashi memang sering kesulitan tidur bila keadaan di luar hujan. Biasanya dia akan berlari menuju kamar Okasan dan Otosannya untuk tidur bersama, namun malam ini tampaknya kamar mereka terkunci sehingga Takashi tidak dapat masuk.

“Hai. Ayo tidur.” Shinji mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Takashi, lalu berjalan menuju kasur. Disuruhnya Takashi naik ke kasur terlebih dahulu agar adiknya tidur di pojok kemudian diikuti olehnya. Diselimutinya tubuh Takashi sebelum menyelimuti dirinya sendiri. Langsung saja kedua anak itu tertidur saling berhadapan dengan damai.

Keesokan paginya, Okasan terkejut karena melihat anak keduanya – yang seharusnya berada di kamar depan, sedang tertidur pulas bersama kakaknya. Ya, memang rutinitas setiap paginyalah membangunkan kedua anak yang sedang tumbuh itu untuk berangkat sekolah.

“Nii-chan~… Taka-chan~… bangun~~…..”

“Hmmmmm…..” bukannya bangun, kedua anaknya malah memiringkan badannya membelakangi Okasannya.

“Nii-chan~… Taka-chan~… ayo bangun~… sekolah~…”

“Hmmmm… Ohayou Okasan.” akhirnya Shinji bangun, walau masih terduduk di kasurnya sambil mengucek matanya yang belum terbiasa dengan matahari yang masuk ke dalam kamarnya.

“Ohayou… Taka-chan~… bangun~…” Okasan masih tetap berusaha membangunkan anak keduanya yang belum bangun itu.

Setelah nyawanya penuh, Shinji langsung turun dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di depan kamarnya.

“Taka-chan~…”

“Iyaaaaaaa~…” ucap Takashi yang setelah perjuangan panjang membangunkannya akhirnya bangun juga. “Ohayou Okasan.”

“Ohayou… Taka-chan kenapa tidur di sini?” tanyanya sambil mengambil selimut untuk dibereskan.

“Kemaren hujan. Taka-chan gak bisa tidur. Kamar Okasan sama Otosan dikunci, jadi Taka-chan gak bisa masuk.”

“Ohh.. I-Iya.. Mungkin Otosan tidak sengaja menguncinya.” suara Okasan terdengar sedikit aneh.

“Nee~… Okasan~… Taka-chan tidur ama Nii-chan terus aja yaaa…” rujuknya. “Taka-chan takut tidur sendiri.”

“Lohhhh… tapi kan…”

“Gak papa Okasan. Taka-chan tidur di sini aja. Abis Taka-chan sering ngebangunin tengah malem minta ditemenin tidur.” potong Shinji yang telah selesai mandi dan mengambil seragamnya di dalam lemari pakaian di samping meja belajarnya.

“Ya… Okasan… Ya… Onegaiii~…” pinta Takashi.

“Baiklah, Okasan akan coba tanya dulu ke Otosan, boleh atau tidak.”

“Pasti boleh! Arigatou Okasan.” ucap Takashi sambil menarik baju Okasannya dan mencium pipinya. Kemudian dia buru-buru turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.

***

“A... Ga… Saga!!!!!” teriak Hiroto di depan muka Takashi.

“Apaan sih Pon! Bisa budek nih!!!” Takashi memasang wajah jutek ke teman mungilnya sambil mengorek-ngorek kupingnya. “Hee… Apaan tadi? Saga?” tanyanya ketika sadar dirinya dipanggil ‘Saga’ oleh teman sekelasnya di Alpha Junior High itu.

“Lo gak tau? Lo kan dipanggil ‘Saga’ ama anak-anak cewek.” terangnya sambil mengambil bangku lalu duduk berhadapan dengan Takashi.

“Apaan tuh Saga?”

“Dari yang gue denger sih artinya kupu-kupu. Katanya lo tuh kayak kupu-kupu. Cantik tapi rapuh. Cieeeee… gue curiga elo beneran adeknya Tora-senpai bukan sih?” ejek Pon sambil mencolek-colek dagu Takashi.

“Apa-apaan sih lo!!” Takashi menepis tangan Hiroto yang sedang mencolek dagunya. “Lagian gue cowok. Masa’ dibilang cantik.” lanjut Takashi sewot.

“Tapi dengan begitu, abang lo aman, kagak ada yang berani ngedeketin.”

“Nii-chan?”

“Iye~… Mereka minder. Mereka bilang elo tuh terlalu cantik, lawan yang berat buat mereka.”

“Heeee… honto?” Takashi pun langsung termenung. Entah mengapa dia merasa sedikit senang karena Nii-chan nya ‘aman’.

“Tapi tetep ya, adaaa aja yang nekat nembak abang lo.” Ucap Hiroto tiba-tiba.

“Ehh?”

“Kemaren gue ama Shou ngeliat abang lo di belakang gedung sekolah. Kagak kedengeran sih ngomong apa, soalnya kita di semak-semak, tapi tu cewek langsung lari sambil nangis-nangis pas abang lo geleng-geleng.” jelas Hiroto panjang lebar.

Takashi kembali termenung. Nii-chan nya memang terkenal tampan dan pintar. Bukan hanya pintar di bidang akademik, tetapi juga di bidang lainnya seperti olahraga dan kepemimpinan. Tidak heran dia sampai dipanggil ‘Tora’ oleh hampir seluruh warga sekolah karena badannya yang atletis dan sikapnya yang cool seperti macan. Dan ketika dirinya mencalonkan diri menjadi ketua OSIS pun langsung disambut baik oleh teman-teman bahkan guru-guru di sekolahnya walaupun saat itu dia baru kelas 1. Namun tampaknya untuk pemilihan tahun ini dia tidak akan mencalonkan dirinya lagi karena ingin fokus menghadapi ujian sekolah dan ujian masuk SMA. Tapi kemudian sesuatu menyadarkannya kembali ke dunia nyata.

“Lah… elo ngapain di semak-semak belakang sekolah ama Shou-senpai?” tanyanya. Yah, walaupun sebenarnya Takashi tahu apa yang sedang dilakukan teman dan senpainya itu. Dia hanya ingin menggoda teman yang dipanggilnya ‘Pon’ itu.

“Hehehehe… kayak gak tau aja lo…” ucap Hiroto sambil memamerkan giginya.

***

Alpha Junior High, tempat Takashi dan Shinji menuntut ilmu, merupakan salah satu sekolah elit di Tokyo yang terdiri dari sekolah tingkat dasar, menengah, dan atas. Selain karena memang kualitas akademis yang telah terakreditasi A, banyak siswanya yang berasal dari keluarga menengah ke atas. Gedung Alpha Junior High sendiri terdiri dari 4 lantai: lantai 1 untuk ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang administrasi, aula dan beberapa ruang untuk kegiatan ekstrakurikuler di bagian belakang; lantai 2 untuk ruang kelas 3 dan kelas 2, lantai 3 untuk ruang kelas 1 dan beberapa ruang untuk kegiatan praktek seperti ruang musik atau memasak; dan lantai 4 untuk atap. Di depan gedung terdapat lapangan yang sengaja didesain seperti stadion olahraga – rumput hijau di tengah dengan lintasan lari disekelilingnya. Di belakang gedung terdapat kolam renang yang berbatasan dengan taman mini Alpha Senior High. Karena masih satu yayasan Alpha Gakuen, siswa berprestasi di Junior High akan langsung diterima di Senior High tanpa melalui tes masuk.

Saga kini tengah berjalan di lorong lantai 2 untuk mengajak kakaknya pulang bersama. Kakak-beradik itu memang sudah dari sekolah dasar selalu berangkat dan pulang bersama. Sesampainya di depan pintu kelas 3-A, Takashi melongok ke dalam, namun tidak terlihat siapapun di dalam ruang kelas tersebut.

“Hmmmmm….” terdengar sebuah desahan pelan dari dalam ketika Takashi hendak pergi. Ia pun membalikkan badannya lagi dan masuk ke dalam ruang kelas menuju sumber suara.

“Ehemmmm…” Takashi sengaja berdeham untuk memberitahukan ‘duo mesum’ di depannya tentang keberadaannya.

“Ahh… Saga!!” pekik Hiroto saat mendapati Takashi sedang memergokinya sedang bersama Shou-senpai, kekasihnya, - lagi.
Kohara Kazamasa, atau yang biasa dipanggil Shou ini adalah kakak kelas Takashi dan Hiroto serta teman sekelas Shinji. Diluar, ia terlihat cool dan sopan dengan sikapnya yang terkesan 'menahan' diri. Namun, bila sudah bersama Hiroto, ia langsung berubah menjadi dirinya sendiri yang ternyata sama 'gila'nya dengan Hiroto. Takashi memang sering memergoki mereka sedang berduaan entah sedang berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, atau bahkan lebih dari itu. Oleh karena itu dia sudah terbiasa melihatnya.

“Senpai tahu dimana Nii-Chan?” tanyanya santai.

“Tora? Dia sedang ada rapat OSIS dadakan.”

“Oh... trus kenapa Senpai gak ikutan rapat?”

“Ano… aku ada urusan penting, jadi aku ijin rapat hari ini. Hehehehe.” kilahnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Diliriknya Hiroto yang sedang membetulkan kancing bajunya.

“Hemm.. Bisa kulihat kok ‘urusan’mu dengan Pon.” sindirnya. “Baiklah, aku pulang duluan. Jaa na….” sambungnya langsung beranjak pulang.

***

“Tadaima~…” seru Shinji pada Takashi yang sedang tiduran di kasurnya sambil membaca komik.

“Okaeri Nii-chan.” Takashi pun meletakkan komiknya dan beranjak duduk. “Nii-chan~… bantu aku mengerjakan PR.” pintanya.

Setelah meletakkan tas sekolahnya di meja belajar, Shinji berjalan menuju kasurnya sendiri yang  bersebrangan dengan kasur adiknya dan merebahkan tubuh lelahnya. “Mana sini.”

Takashi lalu beranjak menuju meja belajarnya dan mengambil buku dari tas. “Matematika. Susah banget, Nii-chan.” ucapnya sambil menghampiri kakaknya.

Keakraban Shinji dan Takashi memang sudah terjalin bahkan sebelum Takashi lahir. Shinji sering kali mengelus-elus perut Okasannya ketika Takashi masih berada di kandungan. Shinji juga selalu menjaga adiknya itu dari mara bahaya, termasuk teman-temannya yang nakal. Dan sejak kejadian pada malam hujan ketika Shinji berumur  10 tahun dulu, kakak beradik itu sengaja ditempatkan di dalam kamar yang sama. Oleh karena itu keakraban mereka makin terjalin kuat karena mereka sering bersama, entah untuk belajar, bermain game, membaca komik, atau sekedar tidur di kasur masing-masing. Namun, siapa yang akan menyangka jika keakraban itu berubah hanya karena peristiwa satu malam yang tidak pernah terlintas dipikiran kedua anak yang sedang tumbuh remaja tersebut.


Innocent Love, chapter 1

Title          : Innocent Love

Pairing      : Tora X Saga, more to come

Chapter     : Chapter 1

Author       0yuuchin0

Rating       : PG

Genre        : AU, Romance, Incest

Summary  : Love is never wrong. Then, Are we?

Disclaimer: They ar making out in my bathroom ot mine.

Warning    : Not beta-ed, written by a rookie.

Comment : Written in Bahasa. I'm still a rookie at this world of writing thing so please be gentle with me. Critics and comments are loved :)


[Oni-chan pasti selalu mencintai Taka-chan.]

Pasangan suami-istri Amano tengah menikmati makan malam bersama dengan suasana yang meriah. Bagaimana tidak, anak laki-laki mereka yang berusia sekitar 1.5 tahun tidak henti-hentinya menyemburkan bubur serial yang ada di mulutnya. Mrs. Amano yang sedang menyuapinya sampai kewalahan dibuatnya.

“Shin-chan~… jangan disembur-sembur gitu dong. Ayo, aaaaaa…” perempuan cantik itu masih berusaha menyuapi anaknya. Tetapi tetap saja bocah chubby itu masih menyemburkan bubur serialnya diikuti dengan gelak tawa khas bocah batita.

“Shinji… makan yang benar, Nak. Kasihan Okasan.” sang ayah, Mr. Amano, ikut ‘menasihati’ jagoannya walau tidak mungkin jagoannya itu sudah mengerti. “Gochisosama.” ucapnya lagi sambil membereskan piring bekas makannya.

Keluarga Amano sebenarnya termasuk keluarga menengah keatas. Namun mereka tidak berkeinginan untuk menyewa maid untuk mengurusi pekerjaan rumah ataupun baby sitter untuk jagoan kecilnya karena mereka ingin membina keluarga yang hangat dan saling membantu meski untuk hal-hal kecil seperti mencuci piring atau membersihkan rumah.

Mr. Amano adalah pemilik salah satu perusahaan paling berpengaruh di Jepang. Jaringan bisnisnya sudah melebar hingga ke kancah internasional, Tak jarang ia harus pergi ke luar negeri guna menyelesaikan masalah bisnisnya.

“Ka-chang…. To-chang…. ammmmm… ammmmmm… hahahahahah….” si bocah tetap saja mengoceh riang, sambil sesekali mencoba menarik sendok yang sedang dipegang Okasannya.

“Shin-chan~…. jangan nakal. Haduhhh….”

“Gimana kalau kamu punya adik yaaa…” ucap Otosan sambil mencubit gemas hidung mancung Shinji.

Mendengar ucapan Otosan, Okasan langsung menghentikan kegiatannya menyuapi Shinji lalu menundukan kepala, seberkas rona merah merona terlukis di pipinya. Ia seperti ingin mengungkapkan sesuatu namun terlihat ragu-ragu.

“Anata, eto… ano….”

“Hem? Nani Okasan?”

“Ngomong-ngomong tentang adik…. tadi aku ke dokter…. kata dokter Shin-chan bakal punya adik” ucap Okasan malu-malu.

“Heeee? Honto ni?” tanya Otosan kaget. “Shinji, kamu mau punya adik, Nak.” lanjutnya sambil mengangkat Shinji dari tempat duduknya tinggi-tinggi.

Dan Shinji pun makin terlihat makin bahagia. Entah karena diangkat tinggi-tinggi oleh ayahnya atau karena dia akan segera memiliki seorang adik.

***

“Shin-chan~…. sini Nak… ngomong sama dedek.” ucap Okasan yang sedang terbaring di sebuah ranjang di salah satu ruang praktek dokter memeriksakan kandungannya yang sudah jalan bulan ke-7. Shinji yang sedang digendong ayahnya langung berusaha mendekati ibunya untuk menyentuh perut Okasannya yang buncit.

“Dedek…. Dedek…..”

“Jadi, anak kedua saya berjenis kelamin apa, Dok?” tanya Otosan.

“Anak kedua Ibu dan bapak berjenis kelamin laki-laki. Bisa dilihat ini adalah alat kelaminnya. Bayinya sangat sehat.” terang Mizuki-san, dokter kandungan yang menangani Mrs. Amano, sambil menunjukan gambar samar bayi kecil yang terlihat sedang tidur dengan damai di layar USG 4D. “Selamat Shin-chan, kamu punya teman main. Dedek pasti tampan seperti Shin-chan” lanjutnya tersenyum.

“Iya shinji. Kamu jadi ada teman main. Kalian bisa main bola atau main pedang-pedangan bersama nanti.” ujar Otosan sambil membimbing tangan kecil shinji mengelus-elus perut Okasan.

“Iie… Dedek cantik.” celetuk Shinji polos.

“Bukan cantik Shin-chan, tapi tampan. Tampan seperti Shin-chan.” ralat Okasan.

“Iie…. Cantik. Dedek cantik. Dedek cantik.” ucap Shinji lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dan para orang dewasa yang berada di ruangan itu pun hanya ikut menggeleng-gelengkan kepala mereka dan tersenyum menanggapinya.

***

Bisa dibilang malam ini keluarga Amano merupakan keluarga yang paling bahagia di Jepang. Mrs. Amano telah melahirkan seorang bayi laki-laki dengan berat 2.5 kg dan panjang 45 cm pada jam 06.24 dengan selamat. Memang tergolong kecil untuk ukuran bayi normal. Walau kecil, bayi itu itu terlihat sangat sehat dan imut. Kulitnya putih bersih, matanya mewarisi mata coklat milik Okasannya – tidak seperti kakaknya yang mendapatkan gen mata berwarna hazel milik ayahnya yang notabene keturunan warna negara asing itu. Bayi mungil itu pun langsung disambut dengan tangis bahagia dari kedua orang tuanya dan celoteh riang dari kakak laki-lakinya, dan si bayi, yang sedang tertidur pulas di gendongan Okasannya pun terlihat sangat bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya.

“Anata, jadi akan kita beri nama siapa anak ini?” Meskipun baru saja mengalami masa sulit proses melahirkan, tidak terlihat sedikit pun raut kelelahan di wajahnya. Senyuman senantiasa tersungging di wajahnya yang ayu.

“Bagaimana dengan nama yang sudah kita rundingkan sebelumnya saja?” usul Otosan.

“Selamat datang ke dunia, Takashi” bisik Okasan pelan kepada bayi lucu yang ada digendongannya. “Shin-chan~ ini Taka-chan.” lanjutnya tersenyum kepada anak laki-laki pertamanya.

Shinji yang berada di samping tempat tidur Okasannya langung berjinjit berusaha untuk melihat adiknya lebih jelas. “Taka-chan~ Taka-chan~ ini Oni-chan… nanti kalau Taka-chan sudah besar kita maen sama-sama yaaa….”

“Iya Shinji, ajak Takashi main bersama. Jangan nakal padanya. Kamu harus menyayangi dan mencintai adikmu.” kata Otosan memberi nasihat, dan langsung ditanggapi dengan anggukan yang sangat bersemangat dari Shinji.

“Hai! Oni-chan pasti selalu menyayangi dan mencintai Taka-chan.” janji Shinji mantap.

***

Gomen minna,,, dikit dulu yaaaa,, *ngibrit cari wangsit*

Innocent Love, prologue

Title          : Innocent Love

Pairing      : Tora X Saga, more to come

Chapter     : Prologue

Author       0yuuchin0

Rating       : PG - NC17

Genre        : AU, Romance, Incest

Summary  : Love is never wrong. Then, Are we?

Disclaimer: They are making out in my bathroom not mine.

Warning    : Not beta-ed, written by a rookie.

Comment : Written in Bahasa. I'm still a rookie at this world of writing thing so please be gentle with me. Critics and comments are loved :)

[“Iie… Dedek cantik.”]

“Ka-chang…. To-chang…. ammmmm… ammmmmm… hahahahahah….”
“Gimana kalau kamu punya adik yaaa…”

Dan Shinji pun makin terlihat makin bahagia. Entah karena diangkat tinggi-tinggi oleh ayahnya atau karena dia akan segera memiliki seorang adik.


“Iie…. Cantik. Dedek cantik. Dedek cantik.”

“Shin-chan~ ini Taka-chan.”
“Hai! Oni-chan pasti selalu menyayangi dan mencintai Taka-chan.”

“Aku bilang berikan padaku!”
“Akkhhhhh……
“Nii-chan, jangan!
“Taka-chan….

Takashi langsung mendekatkan tubuhnya ke punggung Shinji. Dilingkarkan tangan kecilnya ke leher Shinji. Begitu Shinji merasa Takashi siap, dia lalu meletakkan tangannya di bawah paha Takashi dan berdiri.

“Taka-chan… Kau ini selalu enteng sekali. Kapan kau gendutnya.”

“Baka no Onii-chan!”

“Nii-chan…… Taka-chan boleh tidur di sini?”

“Amano-senpai, jadilah pacarku!”
“Iya. Kata mereka kau itu terlalu cantik. lawan yang berat untuk mereka.”

“Saga?”
“Iya. Saga. Kupu-kupu. Kau seperti kupu-kupu. Cantik tapi rapuh.”

“Hehehe… anoo~…. Aku ada urusan, jadi aku ijin rapat hari ini.”

“Bisa kulihat kok ‘urusan’ mu dengan Pon.”

Shinji menatap Takashi dengan intens. Matanya terpejam sambil sesekali menggigit bibir bawahnya yang memerah dampak dari ciuman ganas mereka sebelumnya. Dadanya naik turun tak beraturan seiring dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Peluh membasahi sekujur tubuhnya, membuatnya terlihat makin menggoda.

“Tidak Taka-chan. Cinta itu tidak pernah salah.”

“Lantas, apakah kita yang salah, Nii-chan?”

My Life According to the GazettE

Using only song names from ONE ARTIST, cleverly answer the questions. Pass it on (post on a new notes) to people yo like and include me.Pick the songs you want and try to not repeat a song title. It's a lot harder than you think!Repost as "My Life According to (artist name)"

Pick your artist? The GazettE
Are you a male or a female? Reila
Describe yourself! Katherine in the Trunk
You are? Filth in the Beauty
How do you feel? Regret
What would you like to do now? Shiver
Describe where you currently live! The Invisible Wall
If you could go anywhere, where would you go? The Suicide Circus
Your favorite form of transportation? The Social Riot Machine
Your favorite stuff? 32 Koukei no Kenjuu
Your favorite place? Red Motel
Your favorite of day? Distorted Time
Your best friend is? Headache Man
You and your best friend are? Black Spangle Gang
What’s the weather you like? Shiikureta Haru, Kawarenu Haru
If your life was a TV show, what would it be called? the Murder’s TV
What is life to you? Sugar Pain
Your last relationship? Yoin
You like? Psychopath
You hate? Leech
Your fear? Cockroach
How I would like to die? Without a Trace
What do you like to be? Clever Monkey
Your motto? Tomorrow Never Dies

Tags:

My Live According to ALICE NINE

Using only song names from ONE ARTIST, cleverly answer the questions. Pass it on (post on a new notes) to people yo like and include me.
Pick the songs you want and try to not repeat a song title. It's a lot harder than you think!
Repost as "My Life According to (artist name)"

Pick your artist? Alice Nine
Are you a male or a female? Hana
Describe yourself! Rainbows
You are? Sleepwalker
How do you feel? Innocence
What would you like to do now? Cradle to [Alpha]
Describe where you currently live! Blue Planet
If you could go anywhere, where would you go? Mugen - Electric Eden-
Your favorite form of transportation? Time Machine
Your favorite stuff? Armor Ring
Your favorite place? Cosmic World
Your favorite of day? Ruri no Ame
Your bestfriend is? Stray Cat
You and your best friend are? King and Queen
What's the weather you like? Shunkashuuto
If your life was a TV show, what would it called? Gokusai Gokushiki Gokudouka
What is life to you? Heavenly Tale
Your last relationship? Cross Game
You like? H.A.N.A.B.I.
You hate? Karma

Huaaaaaaa!!
I did it!!
how bout ya, minna-san (^o^) ??


Posted via m.livejournal.com.

Tags:

Rollercoaster [Tora X Saga] NC-17

Title      : Rollercoaster
Pairing  : Tora X Saga
Chapter: Oneshot
Author  : 0yuuchin0
Rating  : NC-17 (I think)
Genre  : (tempt to) humor and smut (i know the smutty scene is not hot, sorry m(_,_)m)
Summary  : Saga said something at the Alice9 Channel show and it totally pissed Tora off.
Disclaimer : Saga is Tora's, Tora is not mine. 
Warning    : Not beta-ed, not so funny and not so hot. 
Comment  : I had started to make this fic after I watched the Alice9 Channel Episode [2012.08.03], but it was neglected because i didn't have any idea how to make a smutty scene!! And this is it, a not very satisfying fic. I'm still a rocky at this writing thing so please be gentle with me. Critics and comments are loved :)


[&quot;Sorry I cannot give you a great sex you want&quot;]

“Tora?” Saga called the raven hair as he entered the apartment but got no answer. Putting his shoes on the genkan, he saw Tora’s there. So, he DID leave me! Saga sighed then walking inside.

They have been a lover since Tora’s confession at Saga’s birthday last year. Holding such a feeling for years was very frustrating especially when the one you love did fanservices a lot with your vocalist. After the confession, Saga often slept over at Tora’s apartment as they had to come in the early morning and back at the late night for their new album. Moreover his parents’ house are too far away. So, about few months later, not too long after Chiko’s death, they decided to live together.

“Honey?” The bassist called again, louder, but still had no answer.

Vaguely, Saga could hear the sound of water running from the bathroom at their bedroom. He even showers WITHOUT me! It made Saga pissed off. Tora ALWAYS invites Saga when he wants to shower. He even waits for Saga until he comes home if Saga is out. He was the one who said shower is time for lover anyway.

As Saga entered the bedroom, Tora was coming out from the bathroom with only a towel slung around his hips, water was dripping from his wet hair, and his muscular body was damp. The sight made Saga forget about his resentment and a little bit turn on.

“Hey.” The brunette called.

“Hmm” Tora hummed without looking at him. He then picked a boxer in the wardrobe and wore it as if Saga was not there.

Right. Saga was totally pissed off.

“’Hmm’?! Just ‘Hmm’?!?! Tora!! What’s got into you?!?!” He finally yelled at his lover.

“Nothing much.” He murmured (again) without looking at Saga then climbing on the bed.

“This is absolutely NOT ‘nothing much’!! You went home alone and left me at the studio! You even showered without me! How come you said ‘nothing much’ after that happened?!?!”

“I thought you wanted to come to Nao’s place.” closing his eyes, Tora replied calmly.

“Nao’s place?? Did I ever say that?” The brunette was confused. He tried to remember if he ever said that back at the Alice9 Channel studio. The drummer and he were the guests on today Alice9 Channel which is Nao’s birthday event.

“I thought you wanted to have a great sex with him.” again, Tora stated calmly as if it was something normal.

“I don’t remember I wanted to have a . . . . . Wait!! have WHAT?!?!” Saga’s eyes was bigger and almost jumped out from its confine.

“Hmm”

“Tora!! Don’t ‘Hmm’ me!! Why the fuck did you think that way?!?!” Well, Saga now is more than pissed off. He is angry. He did not give a fuck with a joke like that, especially from his lover. He approached Tora who have already laid on the bed, trying to sleep. He straddled his lover’s hips. Tora opened his eyes as he felt a weight on his body. He saw an anger in his lover’s eyes.

“Sorry I cannot give you a great sex you want. Nao can give you one.” Tora said calmly.

“Tora!!!” Saga yelled at him

“You said that!” It was Tora’s turn at yelling.

“Said what?!?!”

“‘People who aren’t good with rollercoaster aren’t good in bed, right after I said I’m not good with it.”

“It’s not like that!”

Tora rolled his eyes. “So? Did I miss something? Want to watch the recap?”

“OK, I said that. But I didn’t mean it! The staffs ordered me to say that!! It was Nao’s birthday. We should make him happy!”

“By saying that? I have million things in mind that can make him happy. Apart from that of course.” Tora stated, annoyed.

“They made me said that. It was an order.” Saga tried to defend himself.

“We are making love to each other. Even in this morning we had the morning sex before we went to studio. How could you say something like that! Am I never satisfied you?” He felt dejected.

“No! Of course not! It is the best thing I ever had! I’ve never had something so wonderful before I was with you! It is . . . . . “

“Your words today didn’t said that.” The raven hair cut Saga’s words and closed his eyes again, trying to ignore him.

Saga sighed. He never wins arguing with Tora, especially when the older is in a bad mood.

“Look, I’m sorry, OK. I should not obey their order, right?” He put his hands on both sides of Tora’s head. However, he didn’t get answer. Tora was still closing his eyes.

“Hey, you can punish me if you want.” He leaned over and whispering at his lover’s ear.

“No. I’m tired.” Tora said coldly. He pushed Saga to his right side and rolled to his left side so his back was facing Saga.

“What?! Are you seriously mad at me??” Saga whined. Tora NEVER EVER refuses to make love to him. It was the first time, and it totally stressed him out.

“You can go to Nao and get your punishment from him. Maybe he can give you a great punishment even at his tiredness.” The older murmured, putting the blanket over his head.

“TORA!!” Saga yelled. He pulled the blanket off his lover’s head, grabbed shirt that apparently there, yanked the sulking man so he was laying on his back, and tied his hands at the headboard.

“FUCK SAGA!! Untie me!!” He demanded.

Instead of untying him, he placed several butterfly kisses on Tora’s ear. Slowly, he nibbled at the sensitive skin right behind the ear. One year relationship makes him know well where his lover’s weak spots are.

“Saga! I said untie… hmmm~… me…” He shivered as the younger did that to him.

Saga smirked. He knew he was going to win. He slowly went down to the raven’s chest, nipping at it, sucking the nipples, the right one at first then to the left.

“Ugghh~… Sagaahhh~…” He was moaning as Saga was already at his belly, licking the firm muscle.

“Hmm?” He kept on going at the belly – licking, sucking, and nibbling. When he felt a hard thing poking at his throat, he looked up to his lover. “Didn’t you say to untie your hands?” He teased him. He knew Tora would not let him down as he was already turned on.

“Hmm… Hell yessss~…” He looked down to the bassist. His eyes were full of lust. “Untie me baby~…”

The brunette crawled up so he could untie his lover’s hands. As he felt his hands were free, Tora made Saga sitting on his thigh and put his hands on Saga’s side, playing with the hem of his shirt.

“You wear too much cloth.” Tora said.

And no need to be told, Saga put his hands over his head so Tora could pull his shirt off of him. As the fabrics were removed, Saga pushed Tora down and kissed his lips passionately. He sucked the other bottom lip and licked it, asking for permission to go inside. As the older parted his lips, his tongue was exploring the guitarist hot cavern. Didn’t want to be the submissive one, Tora pushed the other tongue out of his mouth and sucked it hard. He pushed Saga so he was lying on his back. Still kissing him, he unbuckled the bassist belt and pulled the zipper down. He then slid his hand through the jeans and squeezed the bulge in Saga’s boxer, making him moan his name out.

“Toraaaaahhhhh~…” he moaned.

Saga’s moaning totally made his cock burst with excitement. He yanked his lover’s jeans and boxer off and tossed it nowhere behind his back. He licked his lips as he saw his lover beautiful body.

“You are so beautiful you know.” He leaned over and kissed him.

“Toraaa~… hurry~…”

Knowing his lover’s eagerness, Tora went down to his lover manhood and kissed it before he took the head into his mouth.

“Fuck! Toraaa~…” Saga’s hands found its ways into Tora’s hair and burying his fingers in it.

He sucked the head hard and licked the shaft teasingly slow. He then started to bobbed up and down along the shaft. He felt Saga’s fingers pulling his hair unconsciously giving an extra pleasure on it. He licked the balls once he reached at the bottom of the shaft.

“Arrggghh!! Toraahhhh~~….. Not gonna last~….”

Tora smirked as he hear his lover words. He pulled out from Saga’s member – getting a ‘fuck Tora!’ from him – and pulled down his boxer, threw it away – made it join Saga’s. He took Saga’s right leg and put it on his shoulder and the other on his waist. Then he put the head of his cock on the younger entrance.

“Wait, Tora. The lube?” Saga became panic as he knew how big his lover’s cock is.

“Didn’t you want to be punished?” Tora smirked. Ignoring the bassist’s grunt, he began to trust his member into his lover’s tight hole. He started to push it in and out slowly and gently. Even he was angry with his lover, he didn’t want to hurt him.

“Uugghhh… Toraaa~… So big~…” The brunette moaned as he felt the raven’s big cock was filling him. Unconsciously he then pushed his hip up so he could take it deeper. “aahhh~…”

Tora was speeding up. He picked up the pace. Faster and harder. Saga just could not take it any longer. He released his fingers that were on Tora’s hair and tried to put it on his aching member before stopped by Tora.

“Who said you can touch it?” Tora put Saga’s hand on his own back and gripped his already leaking precum member. He worked on thrusting as hard as he could, looking for his lover’s sweet spot. And when Saga bent his back up, screaming his name out load, he knew he just found it.

“Oohh~.. Tora~.. Please~…Let me come…” He whimpered as Tora’s grip on his member became tigher – not allowing him to cum.

 “No… Uhh.. Saga… You are so fucking tight!!” He grunted. His thrust became more erratically. He gripped onto the bars of the headboard with his other free hand. He was not being last either. He kept pounding harder, faster, and deeper, repeatedly hitting Saga’s prostate.

“Tora!!! Fucking let me cum!!!” Saga was frustrated as his prostate was hit repeatedly yet his come was denied by Tora’s grip on his member.

“Arrggg… Fuck… Sagaa~…” Finally, after a few more thrusts, he came hard, screaming Saga’s name out loud, filling his lover’s hot cavern with his cum. His thrusts slowed down as he rode out his orgasm. He released his grip on Saga’s cock and collapse on top of the smaller man.

“Tora!! Don’t you dare fucking stop!! I haven’t gotten my fucking released yet!!” Saga cried as Tora moved to his side.

“Ohh… Sorry… I’m not good in bed. Well, I think you should go to Nao or use your hand.” Tora said, looking at his lover’s neglected cock with mischievous grin and then rolled to his left side so his back was facing him (again).

“TORA!!!!!!!”    

Paypal

こんばんは

minnaaaa,,, yang dari Indonesiaaaaa,,
ada yang tau cara bikin paypal gak??
gw punyanya kan BNI nah kemaren waktu tanya sama mbak2nya BNI mereka malah kagak ngarti itu paypal mahluk apaan,, hhaaaaddddeeehhhh mbak,,,,
stuff2 langka jrock yang menggiurkan kebanyakan dari negeri orang dan mereka maunya pembayaran via paypal aja,, wadduuhhh,,

help me, please??
ありが虎 !!!

note: kalau kalian taunya pake bank laen gk papa monggo dikasih petunjuk saya nya :)

Tags:

Profile

lips
0yuuchin0
0yuuchin0

Latest Month

May 2014
S M T W T F S
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031